Waktu, Kekekalan, Dan Dimensi

Waktu dibungkus dengan kekekalan. Kekekalan adalah waktu yang terbuka bungkusnya – Friedrich Christoph Oetinger, ilmuwan.

Waktu adalah satu hal konstan di dalam dunia yang berubah cepat. Detik-detik diibaratkan seperti tetesan air yang terus keluar dari keran yang bocor. Waktu itu bergerak hanya ke satu arah – maju. Kecuali Allah sendiri, tak ada satu pun yang bisa mengubah arah aliran itu. Dan waktu bergerak pada laju yang sama bagi semua orang. Entah orang itu adalah dari suku pedalaman seperti yang terdapat di Papua atau orang itu adalah seorang professor berkacamata di ruang kuliah di Oxford sana, semua tidak ada bedanya. Waktu adalah sumber yang sama-sama kita miliki. Sehari ada dua puluh empat jam, tak seorang pun yang mendapat lebih dan tak seorang pun yang mendapat kurang bahkan semenit pun. Waktu adalah seperti itu.

Kemudian datanglah Einstein dan membuang buku peraturan ke perapian. Ia membuktikan bahwa waktu hanya bekerja dengan cara yang biasa ketika kita merasa nyaman di dalam kerangka acuan yang rutin. Akan tetapi, begitu kita keluar dari kerangka acuan tersebut, maka waktu berubah. Ketika berada di alam semesta yang lebih besar – suatu alam semesta dari berbagai kerangka acuan dan kecepatan yang besar – maka waktu berubah secara dramatis.

Dengan mengizinkan kita secara sekilas melihat fakta ini, saya yakin bahwa Allah sedang menunjukkan pada kita akan sesuatu. Melalui teori relativitas Einstein, Ia memberi kita kesempatan untuk “mengintip sedikit” penyingkapan ke dalam alam surga. Ketika Allah menunjukkan sesuatu dengan cara seperti itu, biasanya amat penting untuk mengikuti petunjuk-Nya dan kita harus berusaha untuk menyimak pesan yang tengah Ia sampaikan.

Ada banyak pandangan teologi mengenai hubungan yang pasti antara Allah dengan waktu. Pendapat orang orthodox – dan keyakinan saya sendiri – adalah bahwa Allah berdiri di luar waktu. Waktu adalah penemuan-Nya yang spesifik, dengan kata lain, waktu itu memiliki awal semulanya. Allah menciptakan waktu ketika Ia menciptakan ruang dan benda. Ketika zaman kita berakhir, Allah akan meniadakan waktu, dan kemudian kekekalan akan berlaku.

waktu dan kekekalanWaktu nampaknya begitu kaku bagi kita karena kita hidup hanya dalam satu dimensi waktu: yaitu garis lurus. Bila kita mampu memandang waktu di dalam dua dimensi atau lebih, maka nampaknya banyak dari pertanyaan kita mengenai kuasa Allah yang luar biasa pasti akan terjawab. Karena Allah bekerja di dalam lebih dari satu dimensi waktu, Ia bisa bergerak ke mana-mana di dalam dimensi waktu kita yang tunggal dan melihat segala sesuatunya terjadi secara simultan.

Ini sulit bagi kita untuk memahaminya, namun, sama sekali tidak sulit bagi Allah untuk melakukannya. Kita seharusnya jangan masuk dalam perangkap pemikiran bahwa bila ada sesuatu yang sulit bagi kita untuk membayangkannya, maka itu juga akan sulit bagi Allah untuk melakukannya. Untungnya, alam spiritual itu tidak terikat dan tidak juga dibatasi oleh kurangnya pemahaman kita.

Isilah waktu Anda dengan hal-hal yang otentik..Tak lama lagi kita segera akan berada di dunia yang lain, dan pada waktu itulah kita mungkin berharap kita telah mengisi waktu kita hanya untuk melakukan kebenaran serta mengasihi, dan bukan mengisinya dengan terus-menerus melakukan hal-hal yang tak berarti dalam zaman kita yang berkelebihan beban ini. “Justru karena kekekalan itu berada di luar waktu-lah sehingga segala sesuatu dalam waktu menjadi sangat berharga dan penting serta berarti,” tulis Dorothy Sayers. “Oleh karenanya kekristenan… membuat waktu menjadi teramat penting sehingga segala sesuatu yang kita lakukan di sini seharusnya benar-benar berkaitan dengan kekekalan yang akan kita hadapi.