Cermin…

Apakah anda pernah bercermin, Pasti semua sering bercermin selesai mandi atau ketika merapihkan baju, atau bagi wanita ketika bersolek, apa yang kita lihat di cermin, jawabnya adalah bayangan diri kita bukan apa yang terlintas di dalam pikiran anda ketika bercermin dan melihat diri anda di cermin itu pada umumnya yang akan kita lakukan adalah sebagai berikut Mungkin terlintas : aku ini cukup ganteng / cantik juga, rambut sudah tapi belum ya, pakaian sudah cocok belum. Kadang kita melihat bayangan kita :loh ada jerawat, atau muka kelihatan kusam, dan sebagainya. Hasil dari pengamatan bayangan kita di cermin akan terlihat dari tindakan kita selanjutnya. Bila kita merasa bayangan yang kita lihat di cermin sudah “ok”, maka kita akan merasa percaya diri, tapi jika kita melihat “noda jerawat” atau kulit kusam, kita akan kurang percaya diri, mungkin kita akan segera mengambil sabun pembersih wajah dan mulai membersihkan wajah kita agar terlihat lebih bersih.

Sesekali, jika kita bercermin, pandanglah wajah yang terpantul di dalamnya. Wajah siapakah itu? Wajah itukah yang sesungguhnya kita harapkan ada di dalamnya? Wajah kitakah? Atau wajah orang-orang lain yang kita inginkan sama dengan kita? Puaskah kita dengan wajah yang itu? Adakah raut kekesalan dan kekecewaan saat kita memandang wajah itu?

Ya, sesekali jika kita bercermin, cobalah menengok jauh ke dalam tabir yang menutupi wajah itu. Mampukah kita membelah tabir diri yang selalu menutupi segala perbuatan dan kehidupan kita ini? Sebab sesungguhnya, kita selalu hidup dalam dua dunia yang berbeda. Dunia yang kita hidupi. Dan dunia yang dikenali oleh orang-orang lain terhadap kita. Rahasia. Kita semua menyimpan rahasia diri dalam tabir wajah kita. Rahasia, yang sebagai tabir tebal tak mampu dan bahkan tak ingin kita koyakkan. Karena itu akan membuat kita risih dan merasa telanjang. Tetapi seberapa mampukah kita membuka tabir diri kita sendiri dan melepaskan segala beban kepura-puraan yang menutupi hidup kita ini?

Memang, betapa banyaknya beban diri yang kita tanggung hanya karena ketidak-beranian kita untuk membuka hidup kita bagi orang lain. Kita malu dan enggan untuk dikenali secara utuh. Kita ingin sembunyi dalam topengkebahagiaan. Padahal, siapakah yang dapat bahagia selain dari mereka yang mampu hidup tanpa beban untuk menutupi segala kepura-puraannya sendiri? Siapakah yang selalu dapat bertindak leluasa tanpa rasa takut bahwa topengnya akan terbuka? Siapakah itu?

Sesekali, jika kita bercermin, kenalilah wajah yang terpantul di dalamnya. Kenalilah dia seutuhnya. Koyakkanlah tabir yang menutupi seulas senyum yang kita buat telah mengoyakkan segala topeng-topeng tebal yang telah menutupi kehidupan kita. Mari kita sama – sama belajar melihat cermin diri yang benar tentang diri kita, tentang siapa diri kita tentang topeng yang kita pakai, Mulai lah bercermin dan sadari segala kelemahan diri untuk mencapai sebuah kekuatan diri kita yang hakiki.


Lihatlah siapa di depan itu
Itu Bukan dia, bukan juga mereka
Itu adalah diriku
sadarkah bahwa ku sering bersandiwara
Ku tipu dunia dengan topeng-topeng palsu

Dan Aku tertawa, Meyakini dunia tertipu
Tapi dia yang didepan itu tak bisa ku tipu
Siapakah dia yang terus menatap tajam diriku
Benarkah dia itu aku

Lalu siapakah dia yang menatap tajam diriku
Aku seperti mengenalinya, tapi benarkah itu
Ya… Aku terus berpura-pura dan tak mengenal dia disitu
Bilakah ku buka tabir semu yang menyelimutiku

Aku pun menerawang dalam relung-relung imajiku
Mencari jawab siapa dia disitu
Ya.. Ternyata Dia itu aku
Dialah diriku yang hadir dalam Cermin hati
Dia rahasiku selama ini
Maka Kan kuiarkan dia menjadi aku
Karena aku adalah dia,
maka kulepas semua topeng-topeng palsu
Untuk Menuju Jalan-MU yang satu Ya Tuhanku

(BG)