~*~ Diam ~*~

Orang  bijak berkata: ” Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukan.” Pertanyaannya adalah: ” Di mana mencarinya?” Jawabnya: ” Di dalam diam!” Sebab, di dalam diam itu kita bisa berbicara dengan hati. Hati itu merupakan teleskop dari jiwa, sedangkan mata merupakan teleskop dari hati.Contoh. Kita sering mempertunjukkan kekerdilan diri karena tidak mau diam. Mulut nyerocos, tahu-tahu tidak nyambung antara keinginan hati dan paparan mulut. Berbuih-buih sudah mulut berkoar–koar, akhirnya kebohongannya terkuak dan sulit ditambal.
Itu karena kita kurang merenung, dan “diam”. Hati kita tak lagi peka mendengar “suara” orang lain. Bila kita tak mampu memahami masalah sendiri dengan dalam, bagaimana bisa memahami orang lain? Maka, yang muncul kemudian adalah menyalahkan, menyikut, mempermalukan, membodohi, dan menipu orang lain. Kita jadi licik. Ini sebuah soal yang terasa makin jamak di negeri ini. “Oleh karena itu, yang penting bagimu, kerjakanlah apa-apa yang baik bagimu dan bukan yang baik menurut mereka, sembari kau serahkan jiwa ragamu kepada Tuhan,” tulis Jatiswara Kawedar. Dan, Anda pernah mendengar bahwa, “Manusia itu
sesungguhnya adalah gurunya sendiri; di dalam dirinya sendiri terdapat rahasia keberadaannya.”
Ketika kita mencela dan menghakimi seseorang: mengapa repot-repot mencela dan menghakimi? Bukankah setiap perbuatan adalah tanggung jawab kita sendiri dan kita tidak harus bertanggung jawab terhadap perbuatan orang lain? Daripada membuang-buang tenaga untuk mencela dan menghakimi, menuding ke sana kemari, mengapa tidak duduk diam dalam hening, mengamati napas dan kesejatian kita, untuk memupuk kebajikan dan kebijaksanaan dalam diri
Diam juga bisa berarti sebuah perisai orang bodoh dan pelindung bagi orang bijak. Orang bodoh tak perlu membuktikan kebodohannya bila ia diam, dan orang bijak tak akan melemparkan mutiara ke depan babi bila ia tahu nilai
diam. Dengan diam-sembari belajar sabar-sebuah soal yang pelik bisa terpecahkan.Saat emosi sedang melebihi ubun-ubun, saya percaya kalau diam adalah emas.
Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dandan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya. Ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis,Cara menyelamatkan diri dari bahaya lidah adalah diam, Diam Itu Emas Dalam upaya mendewasakan diri kita menilai berbicara dengan bahsa yang baik

” Maka sekali-sekali diam dan merenunglah “