~ C1Nt4 ~

Cinta adalah raja segala emosi. lebih besar dari pada agama. Cinta adalah sesuatu yang sangat berbahaya tetapi sesuatu yang agung. Teologi juga subjek yang berbahaya. Kenapa cinta berbahaya? Karena orang-orang secara fanatik berpegang pada ide bahwa cinta adalah luhur, umumnya pria berpendapat demikian. Sedangkan wanita memandang cinta secara realistis daripada lelaki. Wanita dikejar pria dan menyerah kepadanya. Lelaki kebetulan jantan dan sebagai jantan cendrung untuk mencinta. Sedang perempuan ibu pada kodratnya. Tetapi keduanya itu adalah naluri semata. Banyak mode untuk mengagungkan wanita, salah satunya dengan cinta keibuanya yang sebenarnya suatu keniskayaan seperti halnya ia harus bernafas. Banyak juga mode untuk menyalahkan lelaki salah satunya karana mereka mempunyai insting yang kuat dan buta dalam dirinya, naluri mengembangbiakkan keturunan yang akhirnya mode untuk menyalahkan wanita. Naluri ini sangatlah penting bagi umat manusia. Para filsuf beranggapan bahwa rasa kebapakan dalam diri lelaki dianggap bukti kemenangan manusia atas binatang, jadi lebih penting dari sexs wanita yang kehangatanya lebih bersifat menanggapi . Dengan hangatnya tanggapan dari kaum wanita, maka mungkinlah cinta seperti sekarang ini terus berjalan. Sebenarnya semua wanita berdagang cinta. Ini pengakuan mereka sendiri oleh kaum wanita yang lebih banyak waktu merenung cinta yaitu pelacur. Banyak yang sepakat bahwa lebih baik dicinta dari pada mencinta. Kenapa begitu, kalau cinta adalah raja segala emosi?. Karena dalam cinta orang memberikan pengaruh, sedang dalam mencinta, orang hanyalah menjadi pelaku yang pasif dari suatu kekuatan yang bergerak. Keutamaan wanita biasanya hanya untuk pameran. Misalnya kejujuran, adalah ketakutan akan tertangkap. Bila seorang wanita menolak, itu bukanlah tanda keutamaanya: lebih mungkin itu adalah bukti kelemahanya. Bila wanita bicara secara lurus, kebanyakan dari mereka akan mengakui bahwa dorongan hati mereka adalah utuk menyerah, dan mereka menolak disebabkan karena takut. Tetapi sangatlah tepat ucapan seorang penyair besar bahwa tak ada pemandangan alam, baik kegemilangan matahari terbit, kehebatan taufan, kedashyatan halilintar, maupun sinar yang memudar dari matahari terbenam yang pantas dikagumi oleh seorang lelaki yang telah menyaksikan dalam pelukanya transfigurasi seorang wanita dalam saat-saat ekstasenya yang agung dan mulia. Cinta tidaklah miskin akan perasaan tetapi kaya akan perasaan yang tidak akan membuat cinta itu runtuh untuk seorangpun. Sebab cinta juga punya kuasa atas diri manusia. Tidak ada yang mengimbangi pujian & hinaan yang tertinggi dari cinta. Cinta juga adalah suatu alasan, kepura-puraan yang tidak diketahui jelas maksud dan tujuannya. Cinta adalah awal kebimbangan yang tidak disadari atas dosa. Berjuta–juta alasan orang menilai cinta sebab pengaruh dari cinta. Apakah cinta itu mesti dicari.? Apakah cinta yang utama dalam hidup ini?. Apakah cinta itu bisa menyelamatkan manusia? Sungguh pertanyaan yang mengganggu yang membuatku tidak nyaman. Tidak ada kesimpulan pasti tentang cinta yang dapat meyakinkan kehidupan. Lantas dengan diriku sendiri, mengapa aku terlalu sibuk dengan misteri cinta yang sebenarnya tidak akan pernah hadir dalam diriku. Atau apakah aku sadar dengan diriku sekarang ini. Kalau itu musatahil untuk kutemukan, mengapa aku peduli dengan urusan yang satu ini? Apakah cinta itu bisa melahirkan harapan yang sebenarnya sia-sia. Cinta tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya. Cinta hanyalah sebatas cinta yang penuh dengan misteri. Untuk apakah cinta itu. Jarang orang mematuhi tentang aturan cinta yang menyelamatkan cinta itu sendiri. Jarang orang memenuhi tuntutan dari cinta itu sendiri. Kalau tidak, mana mungkin cinta itu dipermainkan oleh kelahiran dan kematian. Apakah cinta itu lahir untuk selamanya dan mati untuk selamanya juga? Apakah mungkin cinta itu lahir sebelum kelahiran seseorang, dan mati setelah kematian seseorang itu juga. Apakah cinta itu memilih. Ya Tuhan…betapa gilanya aku harus memilih untuk terlibat dalam perkara ini. Sungguh aku tidak mengetahui dan menyadari ada apa senenarnya denganku. Yang membuktikan bahwa benar adanya cinta adalah tentang peradaban sebelumnya dan sekarang ini. Kita tidak tahu pasti, apakah cinta mampu meyakinkan masa depan seiring dengan peradaban. Jawabannya tiada duanya yang tidak akan ditemukan antara yakin atau tidak. Yah…cintalah yang mungkin membuat semuanya ini terjadi. Selalu alas an cinta. Adanya dosapun sebab alas an cinta. Tiada yang lain selain cinta untuk memuji dan caci.