~ Memilih Bagian Yang Terbaik ~

Hari itu matahari bersinar cerah, udara pagi begitu segar, suasana di sebuah kota bernama Betania tampak begitu asri. Di sebuah rumah di sudut kota itu tampak seorang perempuan muda yang sedang sibuk mengatur dan membersihkan rumah. Perempuan muda yang bernama Marta itu tampak begitu bersemangat dan energik. Dia tak henti-hentinya bekerja, sepertinya ada saja yang dilakukannya. Hari itu seakan-akan dia hendak menyambut seorang tamu penting di rumahnya.

Tak jauh dari tempat itu, di luar kota berjalanlah seorang laki-laki ditemani beberapa orang. Laki-laki itu tak lain adalah Yesus yang sedang melakukan perjalanan bersama murid-murid-Nya. Tak lama mereka berjalan, maka sampailah mereka di kota Betania itu. Yesus kemudian menuju ke rumah Marta. Menyambut kedatangan Yesus hati Marta sangat bersukacita, ia begitu bersemangat dan dengan gembira ia mengajak Yesus untuk masuk ke rumahnya. Yesus pun menyambut undangan Marta itu dan dengan hati sukaria Ia pun masuk ke rumah Marta.

Saat itu dari dalam rumah muncullah seorang perempuan muda lain yang bernama Maria saudara Marta ikut menyambut kedatangan Yesus. Wajah Maria tampak sangat bahagia karena kedatangan Yesus di rumah mereka. Maria pun mengajak Yesus untuk duduk bersamanya, dan sejak saat itu Maria tak beranjak sedikit pun dari kaki Yesus. Maria dengan setia duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan segala hal yang dikatakan oleh Yesus kepadanya.

Apa yang dilakukan oleh Maria itu tampaknya tak berkenan di hati Marta saudaranya. Dalam hatinya ia menggerutu karena Maria tidak sedikit pun tergerak untuk membantunya. Marta begitu sibuk melayani Yesus yang ada di rumahnya. Sepertinya segala sesuatu ingin dikerjakannya untuk menyenangkan hati Yesus. Ia sibuk bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman. Sesekali Marta melihat ke ruangan depan, ingin tahu apa yang dikerjakan oleh Maria, namun yang dilihatnya hanyalah Maria yang masih setia duduk di kaki Yesus mendengarkan perkataan Yesus. Dari raut wajahnya Maria tampak sangat bahagia, ia tak henti-hentinya memandang Yesus dan membiarkan dirinya hadir untuk Yesus saja.

Seakan-akan kesibukan yang dilakukan oleh Marta tak terdengar sama sekali oleh Maria, yang ada dalam pikiran Maria hanyalah Yesus saja dan berada bersama Yesus. Melihat apa yang dilakukan oleh Maria membuat hati Marta bertambah jengkel dan kesal. Ia merasa saudaranya itu egois dan tak mau membantunya, padahal apa yang dikerjakannya tak lain adalah untuk menjamu dan menyenangkan hati Yesus yang bertamu di rumah mereka. Marta tak henti-hentinya menggerutu dalam hatinya.

Ketika rasa jengkel sudah tak tertahankan lagi, Marta pun segera bergegas ke ruangan depan, dan ia pun mendekati Yesus seraya berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Marta mengatakan hal itu sambil melihat ke arah Maria yang masih tetap duduk di kaki Yesus. Maria seolah-olah tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh Marta, ia tetap mengarahkan pandangannya kepada Yesus saja.

Ketika Yesus mendengarkan keluhan yang disampaikan oleh Marta, Ia hanya tersenyum dan memandang Marta dengan penuh kasih. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh Marta, Ia memahami apa yang dialami oleh Marta. Yesus mengerti bahwa Marta sangat mengasihi Dia dan karena kasihnya itu Marta ingin melakukan yang terbaik untuk Yesus dengan menjamu dan melayaninya sebaik-baiknya. Akan tetapi Marta melupakan satu hal yang penting. Oleh karena itu, Yesus dengan lembut berkata kepada Marta, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.”

Yesus mengatakan hal itu kepada Marta untuk membuatnya menyadari bahwa ada hal penting lainnya yang dia lupakan, yaitu duduk dan mendengarkan Yesus. Yesus tak menyuruh Marta untuk terus bekerja dan bekerja, Dia ingin agar Marta pun dapat memilih bagian yang terbaik seperti Maria, yaitu dengan membiarkan diri berada bersama Yesus, berdiam di bawah kaki Yesus dan mendengarkan segala hal yang dikatakan oleh Yesus. Yesus tidak marah ketika Marta sibuk bekerja melayani, Yesus tidak marah melihat Marta mengeluh, tetapi Dia mengerti benar bahwa Marta adalah orang yang aktif dan energik, dan Marta ingin mempersembahkan segala usahanya kepada Yesus yang dicintainya. Yang dilupakan oleh Marta adalah bahwa ada saat-saat tertentu ketika Yesus ingin berbicara dan saat itu Yesus ingin agar Marta tidak terus sibuk bekerja melainkan duduk diam mendengarkan Yesus. Duduk diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa, namun duduk diam mendengarkan Yesus itu adalah hal penting yang harus diutamakan.

Seperti halnya Marta, diri kita sendiri tak jarang juga melupakan hal yang penting itu. Dengan segala kesibukan kita sehari-hari, entah di kantor, di rumah, di tempat belajar, di lingkungan, di gereja dan di mana pun kita berada, seringkali membuat kita lupa untuk berdiam diri memberikan waktu untuk Yesus yang ingin berbicara. Seperti Marta kita merasa bahwa dengan bekerja segiat-giatnya, kita dapat mempersembahkan semua itu untuk Yesus, untuk melayani sesama seperti yang diperintahkan oleh Yesus sendiri. Dengan bekerja dan melayani, kita seringkali merasa sudah berbuat banyak dan berbuat hal baik yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Memang benar bahwa apa yang kita lakukan dengan baik dalam pekerjaan dan pelayanan kita semua itu akan menyenangkan hati Tuhan. Akan tetapi, semua itu belumlah tidak menghendaki kita untuk terus bekerja siang malam tanpa henti, melayani ke mana-mana tanpa ada waktu istirahat, karena kalau tidak hati-hati maka segala hal itu justru akan membuat kita menjauh dari Yesus. Segala kesibukan itu akan membuat kita lupa untuk berdoa.

Berdoa, memberikan waktu untuk berdiam saja mendengarkan Yesus, itulah yang terpenting dalam hidup ini. Keseimbangan dalam bekerja dan berdoa itu penting untuk kita perhatikan. Yesus rindu agar kita senantiasa menyediakan waktu bagi Dia. Dia selalu rindu menunggu kedatangan kita. Dia ingin berbicara berdua dengan kita, namun seringkali kita yang tak memperhatikan dan tak menyadari kerinduan hati Yesus itu. Setiap hari dari pagi hingga malam, kita bekerja dan beraktivitas, dan sepanjang waktu itu Yesus ada di hati kita, menunggu saatnya kita memberikan waktu untuk Dia. Ketika malam telah tiba dan kita merasa letih, kita pun segera bergegas untuk tidur, dan saat untuk Yesus pun terlewat lagi. Keesokan hari pagi-pagi kita kembali bergegas untuk bekerja, begitu seterusnya hingga akhirnya Yesus hanya tinggal sebagai tamu saja di dalam hati kita tanpa pernah kita perhatikan.

Yesus sangat rindu akan diri kita, Ia rindu untuk duduk berduaan dengan kita, Ia berbicara dan kita mendengarkan Dia. Dia menyatakan cinta-Nya kepada kita dan kita membalas cinta-Nya dengan membiarkan diri dicintai oleh Dia. Maria telah memilih bagian yang terbaik, itulah yang diungkapkan oleh Yesus kepada Marta. Maria tidak takut meninggalkan segala kesibukannya hanya untuk berdiam bersama Yesus. Apa yang dilakukan oleh Maria bukannya membuat Yesus marah karena dia tidak membantu Marta, tetapi malahan Yesus memuji Maria yang telah memilih bagian terbaik itu.

Bagian yang terbaik dalam hidup adalah memilih Yesus, memilih untuk berdiam di kaki Yesus, mendengarkan setiap perkataan-Nya. Lalu, apakah kita takut mengambil bagian itu? Apakah kita takut meninggalkan segala kesibukan untuk berdiam bersama Yesus dan mendengarkan Dia? Mampukah kita mengikuti Maria yang telah memilih bagian terbaik itu? Semua jawaban ada dalam diri kita masing-masing, dan semua itu terserah kepada diri kita.
Yesus akan tetap menunggu dan menantikan kedatangan kita,
Yesus tetap merindukan kita untuk duduk diam bersama-Nya.

Memilih Bagian yang Terbaik
(Luk. 10 : 38-42)