Archive for Juli, 2009

pernikahan

Pernikahan adalah seperti Sekolah Cinta

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, “HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.”

Saya bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia! menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.”

Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat
memperoleh apa yang aku pinta dariMu?”

Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”

Kemudian Ia berkata kepada saya, “Adalah lebih baik jika Aku memberikan
kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu”.

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.

Jika kamu memancing ikan…..
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil
Ikan itu…..
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang… .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya…..
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja……
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat… ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada
takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh……cukuplah sekadar keperluanmu. ……
Apabila sekali ia retak……tentu sukar untuk kamu menambalnya semula……
Akhirnya ia dibuang….. .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi…..

Begitu juga jika kamumemiliki seseorang, terimalah seadanya…. .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu istimewa…. .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk
menerimanya. ….akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus
Hingga ke akhirnya…. .

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi…..yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain….
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan
menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan….yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.

Iklan

Nikmati hidup ini

~ Penunggang Kuda ~

Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada
seorang penunggang kuda, bahwa jika dia bisa
menjelajahi daerah seluas apapun, maka Kaisar
akan memberikan kepadanya daerah seluas yang
sanggup dijelajahinya itu. Kontan si penunggang kuda
itu melompat ke punggung kudanya dan melesat
secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk
lari secepat mungkin untuk menjelajahi dataran
seluas mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti
untuk makan dan minum karena dia mau memiliki tanah
yang maha seluas.

Akhirnya tiba ia pada suatu tempat setelah
berhasil menjelajahi daerah cukup luas, tetapi ia
sudah sangat lelah dan  hampir mati. Lalu dia berkata
terhadap dirinya sendiri,
“Mengapa aku paksa diri begitu keras untuk
menguasai tanah yang seluas ini? Kini aku sudah sekarat,
dan hampir mati dan aku hanya butuh tanah seluas 2 meter
untuk menguburkan diriku sendiri.

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita.
Kita cenderung memaksa diri sangat keras tiap hari
untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri.
Kita cenderung mengabaikan kesehatan kita,
waktu bersama keluarga, dan kesempatan
mengagumi keindahan di sekeliling kita, hal-hal yg ingin
kita lakukan. Kita cenderung mengabaikan kehidupan
rohani kita. Kita cenderung tidak memikirkan dengan
serius hidup kita sesudah mati.

Anda percaya ada kehidupan sesudah mati?
Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan
melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu,
tapi kita tidak mampu memutar mundur waktu atas semua
hal yang tidak sempat lakukan. Maka mulai sat ini
luangkanlah waktu memikirkan sejenak hal yang akan
terjadi jika kita mati kelak. Atau apa yg akan kita lakukan
saat ini seandainya kita tahu bahwa kita akan
meninggal dalam waktu seminggu lagi? Sebulan lagi?
Setahun lagi? 10tahun lagi? Atau 40tahun lagi?
Bukankah suatu hal yang menyenangkan
sekaligus menyeramkan seandainya kita bisa
mengetahui kapan kita akan mati? Cuma kita tidak tahu,
kita semua tidak ada yang tahu.

Kita hanya bisa bersiap meninggalkan semuanya.
Jalanilah hidup yang seimbang, belajarlah menghargai
dan menikmati hidup ini apa adanya, dan terutama:
TAHU APA YG TERPENTING DALAM HIDUPMU

Setia Dalam Perkara Kecil

~ SETIA DALAM PERKARA KECIL ~

Sebagian dari antara kita mungkin lebih suka dipercaya dalam hal-hal besar, daripada dalam hal-hal kecil. Memang tanggung jawab dan risikonya juga makin besar. Namun harapannya, semakin besar kepercayaan yang diberikan, semakin besar pula hasil dan kepuasan yang didapatkan. Maka, hal-hal yang sederhana akhirnya hanya dipandang sebagai pekerjaan yang “tidak menantang”.

Namun, firman Tuhan dalam Matius 25:21 mengingatkan kita bahwa yang penting adalah keseriusan kita untuk mengerjakan segala sesuatu-entah hal itu “besar” atau “kecil”. Jumlah talenta yang dipercayakan oleh sang tuan bukanlah hal yang penting, tetapi sikap hamba-hamba yang mengelolanya, itulah yang terpenting. Hamba yang memiliki lima dan dua talenta, mengembangkannya. Itulah cara mereka menghargai kepercayaan tuannya. Akan tetapi, hamba yang memiliki satu talenta,
menimbunnya dalam tanah. Sikap ini tidak berkenan di hadapan Tuhan, sebab ia tidak menggunakan kepercayaan yang ada dengan sebaik-baiknya.

Mari kita melihat kembali apa saja yang telah Tuhan percayakan dalam hidup kita? Mungkin Tuhan memercayakan pekerjaan, keluarga, pelayanan di gereja, persahabatan, harta, atau kemampuan untuk melakukan sesuatu. Sudahkah kita menggunakannya untuk menjadi berkat bagi orang
lain dan menghasilkan karya bagi kemuliaan Tuhan?

Meskipun ada alasan bagi kita untuk bersungut-sungut, tetaplah berjuang untuk setia mulai hari ini. “Sekecil” apa pun yang kita peroleh dari Tuhan, kerjakanlah dengan serius. Sebab orang yang setia dalam perkara kecil, mereka mendapat tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar. Di dalam perkara kecil, tanggung jawab kita diasah!

Bacaan : Matius 25:14-30

~ TUHAN MEMBERKATI ~

Seikat Kembang

~ Nilai Seikat Kembang ~

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir didepan kuburan umum. Pria itu berjalan menjuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, “Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!’

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan dibelakang sopir itu. Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, “Saya Ny. Steven. Saya selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya diatas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.”

“Oh, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kapada Anda. Memang uang yang nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu dipusara anak Anda.” Jawab pria itu. “Apa, maaf?” Tanya wanita itu dengan gusar. “Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu disana, karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan sekikat kembang . Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada dirumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahandan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,”jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi. Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun kearah pos penjaga kuburan. Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berkan bebeerapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebaih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal. Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!” Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesediahan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

Memilik Bagian Yang Terbaik

~ Memilih Bagian Yang Terbaik ~

Hari itu matahari bersinar cerah, udara pagi begitu segar, suasana di sebuah kota bernama Betania tampak begitu asri. Di sebuah rumah di sudut kota itu tampak seorang perempuan muda yang sedang sibuk mengatur dan membersihkan rumah. Perempuan muda yang bernama Marta itu tampak begitu bersemangat dan energik. Dia tak henti-hentinya bekerja, sepertinya ada saja yang dilakukannya. Hari itu seakan-akan dia hendak menyambut seorang tamu penting di rumahnya.

Tak jauh dari tempat itu, di luar kota berjalanlah seorang laki-laki ditemani beberapa orang. Laki-laki itu tak lain adalah Yesus yang sedang melakukan perjalanan bersama murid-murid-Nya. Tak lama mereka berjalan, maka sampailah mereka di kota Betania itu. Yesus kemudian menuju ke rumah Marta. Menyambut kedatangan Yesus hati Marta sangat bersukacita, ia begitu bersemangat dan dengan gembira ia mengajak Yesus untuk masuk ke rumahnya. Yesus pun menyambut undangan Marta itu dan dengan hati sukaria Ia pun masuk ke rumah Marta.

Saat itu dari dalam rumah muncullah seorang perempuan muda lain yang bernama Maria saudara Marta ikut menyambut kedatangan Yesus. Wajah Maria tampak sangat bahagia karena kedatangan Yesus di rumah mereka. Maria pun mengajak Yesus untuk duduk bersamanya, dan sejak saat itu Maria tak beranjak sedikit pun dari kaki Yesus. Maria dengan setia duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan segala hal yang dikatakan oleh Yesus kepadanya.

Apa yang dilakukan oleh Maria itu tampaknya tak berkenan di hati Marta saudaranya. Dalam hatinya ia menggerutu karena Maria tidak sedikit pun tergerak untuk membantunya. Marta begitu sibuk melayani Yesus yang ada di rumahnya. Sepertinya segala sesuatu ingin dikerjakannya untuk menyenangkan hati Yesus. Ia sibuk bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman. Sesekali Marta melihat ke ruangan depan, ingin tahu apa yang dikerjakan oleh Maria, namun yang dilihatnya hanyalah Maria yang masih setia duduk di kaki Yesus mendengarkan perkataan Yesus. Dari raut wajahnya Maria tampak sangat bahagia, ia tak henti-hentinya memandang Yesus dan membiarkan dirinya hadir untuk Yesus saja.

Seakan-akan kesibukan yang dilakukan oleh Marta tak terdengar sama sekali oleh Maria, yang ada dalam pikiran Maria hanyalah Yesus saja dan berada bersama Yesus. Melihat apa yang dilakukan oleh Maria membuat hati Marta bertambah jengkel dan kesal. Ia merasa saudaranya itu egois dan tak mau membantunya, padahal apa yang dikerjakannya tak lain adalah untuk menjamu dan menyenangkan hati Yesus yang bertamu di rumah mereka. Marta tak henti-hentinya menggerutu dalam hatinya.

Ketika rasa jengkel sudah tak tertahankan lagi, Marta pun segera bergegas ke ruangan depan, dan ia pun mendekati Yesus seraya berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Marta mengatakan hal itu sambil melihat ke arah Maria yang masih tetap duduk di kaki Yesus. Maria seolah-olah tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh Marta, ia tetap mengarahkan pandangannya kepada Yesus saja.

Ketika Yesus mendengarkan keluhan yang disampaikan oleh Marta, Ia hanya tersenyum dan memandang Marta dengan penuh kasih. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh Marta, Ia memahami apa yang dialami oleh Marta. Yesus mengerti bahwa Marta sangat mengasihi Dia dan karena kasihnya itu Marta ingin melakukan yang terbaik untuk Yesus dengan menjamu dan melayaninya sebaik-baiknya. Akan tetapi Marta melupakan satu hal yang penting. Oleh karena itu, Yesus dengan lembut berkata kepada Marta, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.”

Yesus mengatakan hal itu kepada Marta untuk membuatnya menyadari bahwa ada hal penting lainnya yang dia lupakan, yaitu duduk dan mendengarkan Yesus. Yesus tak menyuruh Marta untuk terus bekerja dan bekerja, Dia ingin agar Marta pun dapat memilih bagian yang terbaik seperti Maria, yaitu dengan membiarkan diri berada bersama Yesus, berdiam di bawah kaki Yesus dan mendengarkan segala hal yang dikatakan oleh Yesus. Yesus tidak marah ketika Marta sibuk bekerja melayani, Yesus tidak marah melihat Marta mengeluh, tetapi Dia mengerti benar bahwa Marta adalah orang yang aktif dan energik, dan Marta ingin mempersembahkan segala usahanya kepada Yesus yang dicintainya. Yang dilupakan oleh Marta adalah bahwa ada saat-saat tertentu ketika Yesus ingin berbicara dan saat itu Yesus ingin agar Marta tidak terus sibuk bekerja melainkan duduk diam mendengarkan Yesus. Duduk diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa, namun duduk diam mendengarkan Yesus itu adalah hal penting yang harus diutamakan.

Seperti halnya Marta, diri kita sendiri tak jarang juga melupakan hal yang penting itu. Dengan segala kesibukan kita sehari-hari, entah di kantor, di rumah, di tempat belajar, di lingkungan, di gereja dan di mana pun kita berada, seringkali membuat kita lupa untuk berdiam diri memberikan waktu untuk Yesus yang ingin berbicara. Seperti Marta kita merasa bahwa dengan bekerja segiat-giatnya, kita dapat mempersembahkan semua itu untuk Yesus, untuk melayani sesama seperti yang diperintahkan oleh Yesus sendiri. Dengan bekerja dan melayani, kita seringkali merasa sudah berbuat banyak dan berbuat hal baik yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Memang benar bahwa apa yang kita lakukan dengan baik dalam pekerjaan dan pelayanan kita semua itu akan menyenangkan hati Tuhan. Akan tetapi, semua itu belumlah tidak menghendaki kita untuk terus bekerja siang malam tanpa henti, melayani ke mana-mana tanpa ada waktu istirahat, karena kalau tidak hati-hati maka segala hal itu justru akan membuat kita menjauh dari Yesus. Segala kesibukan itu akan membuat kita lupa untuk berdoa.

Berdoa, memberikan waktu untuk berdiam saja mendengarkan Yesus, itulah yang terpenting dalam hidup ini. Keseimbangan dalam bekerja dan berdoa itu penting untuk kita perhatikan. Yesus rindu agar kita senantiasa menyediakan waktu bagi Dia. Dia selalu rindu menunggu kedatangan kita. Dia ingin berbicara berdua dengan kita, namun seringkali kita yang tak memperhatikan dan tak menyadari kerinduan hati Yesus itu. Setiap hari dari pagi hingga malam, kita bekerja dan beraktivitas, dan sepanjang waktu itu Yesus ada di hati kita, menunggu saatnya kita memberikan waktu untuk Dia. Ketika malam telah tiba dan kita merasa letih, kita pun segera bergegas untuk tidur, dan saat untuk Yesus pun terlewat lagi. Keesokan hari pagi-pagi kita kembali bergegas untuk bekerja, begitu seterusnya hingga akhirnya Yesus hanya tinggal sebagai tamu saja di dalam hati kita tanpa pernah kita perhatikan.

Yesus sangat rindu akan diri kita, Ia rindu untuk duduk berduaan dengan kita, Ia berbicara dan kita mendengarkan Dia. Dia menyatakan cinta-Nya kepada kita dan kita membalas cinta-Nya dengan membiarkan diri dicintai oleh Dia. Maria telah memilih bagian yang terbaik, itulah yang diungkapkan oleh Yesus kepada Marta. Maria tidak takut meninggalkan segala kesibukannya hanya untuk berdiam bersama Yesus. Apa yang dilakukan oleh Maria bukannya membuat Yesus marah karena dia tidak membantu Marta, tetapi malahan Yesus memuji Maria yang telah memilih bagian terbaik itu.

Bagian yang terbaik dalam hidup adalah memilih Yesus, memilih untuk berdiam di kaki Yesus, mendengarkan setiap perkataan-Nya. Lalu, apakah kita takut mengambil bagian itu? Apakah kita takut meninggalkan segala kesibukan untuk berdiam bersama Yesus dan mendengarkan Dia? Mampukah kita mengikuti Maria yang telah memilih bagian terbaik itu? Semua jawaban ada dalam diri kita masing-masing, dan semua itu terserah kepada diri kita.
Yesus akan tetap menunggu dan menantikan kedatangan kita,
Yesus tetap merindukan kita untuk duduk diam bersama-Nya.

Memilih Bagian yang Terbaik
(Luk. 10 : 38-42)


Kisah Sebuah Hati

~ Kisah Sebuah Hati ~

Ketika sebongkah es membungkus jantung

Sebutir bintang memancarkan sinar

Mengalirkan cahaya  panas

Mencairkan hati yang sekian lama membeku

Menghidupkan kembali jiwa yang sekian lama mati

Bintang menyala semakin terang

Pintu hati telah dibuka

Kuajak bintang menari di angkasa

Awan langitpun terusir

Kilau hati dan bintang kian mempesona

Kini tibalah di ujung pagi

Bintangpun harus pergi

Meninggalkan hati

Haruskah hati ini mati dan membeku kembali ………???

By:Benhawerd S

Pekanbaru, 25 Juli 2009

semalam ku bermimpi….

Semalam aku bermimpi bersama sang pujaan hati,kami duduk berdua di sebuat bangku taman yang indah yang di penuhi dengan bunga2 yang cantik(kayak ditivi tivi gitu deh…)kami duduk berdekatan hingga tak ada jarak sejengkalpun dengan suasana malam yang begitu sunyi dan dinginnya hingga menusuk sukma,akhirnya aku memeluk dia setelah dia menyandarkan kepalanya di dadaku,dan akupun memeluknya dengan penuh kehangatan agar dia merasa nyaman,kami bercerita dan berjanji lagu “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”itulah cuplikan lirik lagu yang kami nyanyikan berdua sambil bercerita tetang seorang pangeran berkuda datang menyelamatkan sang putri yang sedang dalam kejaran penjahat,tampa ku sadari kami saling bertatapan dengan penuh harap,hingga aku memcium keningnya dan berkata “aku saying kamu” dan aku tersentak dan terbangun ternyata yang kucium hanyalah bantal guling…(hiakakaka)sialan nih bantal guling,sambil tertawa dalam hati,ah ko aku jadi mimpi kayak gitu yah…???muda2han mimpinya bersambung lagi…(emang sinetron)