GlorianetKetidakmampuan gereja untuk membicarakan topik yang dianggap tabu di kalangan umat Kristiani merupakan salah satu sebab utama mengapa jutaan orang Amerika meninggalkan gereja dan tak pernah kembali, kata salah seorang penulis.

Ada umat “Kristiani yang kehilangan iman mereka” namun tak seorang pun hendak kembali sebab gereja menghindari topik itu, kata Dave Samford, Kamis lalu.

Hal ini bukanlah berarti Kristiani kehilangan keselamatan, namun iman terhadap Alkitab, gereja dan kepercayaan tentang ke-Kristenan, kata salah seorang penulis, dalam konvensi tahunan Evangelical Press Association (Asosiasi Pers Injili) di Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Sebagian besar dari 31 juta orang Amerika keluar dari gereja, kata Samford, menurut studi Barna.

“Perusahaan yang mana pun yang kehilangan 31 juta orang pelanggan akan bangkrut,” katanya kepada wartawan dan redaktur Kristiani.

Dalam buku terbarunya, ‘If God Disappears: 9 Faith Wreckers and What to Do About Them’, Samford memperinci sembilan alasan berdasarkan kisah orang yang keluar dari gereja mengenai sebab orang Kristiani melepaskan kepercayaan mereka.

Umumnya, umat Kristiani pergi karena mengalami “luka”. Mereka baik secara sengaja atau tidak pergi karena memiliki pertanyaan dan kerahu-raguan yang tak dijawab atau mereka merasa bahwa Tuhan menjauh atau “menghilang,” tinjau Samford.

Penulis mengatakan bahwa dia juga “mengalami” kehilangan kepercayaannya dalam beberap tahun belakangan ketika dia dia menghadapi serangkaian berita sedih, termasuk saat anak perempuannya yang didiagnosa mengalami endometriosis – suatu kondisi yang dapat mempengaruhi kandungannya.

“Saya merasa Tuhan memukul dan memukul dan memukul saya,” katanya.

Walaupun Samford pada saat itu melayani dan berada pada posisi Kristiani yang berkembang- wakil presiden Penerbitan Dan Kementerian Internet untuk Luis Palau Evangelistic Association dan anggota Evangelical Press Association – imannya jatuh pada titik dimana bahkan dia tidak dapat berdoa saat makan.

Namun saat menoleh ke situasinya saat itu, Samford menyadari bahwa Tuhan menggunakan krisis imannya sebagai “engsel” untuk memperbaharui kembali teologinya yang salah dan membolehkan imannya menjadi lebih cemerlang dibanding sebelumnya.

Sejak saat itu dia mengaplikasikan pengalamannya dalam pelayanan kepada mereka yang kehilangan imannya dan berjalan bersama dengan mereka.

Berbicara berdasarkan pengalamannya, dia percaya bahwa Kristiani yang kembali kepada imannya dapat menjadi sebuah fenomena kekuatan luar biasa untuk memperbaharui gereja.

“Kalau anda kembali, anda kembali untuk yang baik. Anda kembali dengan sebuah ‘hasrat’ dan menjangkau orang lain yang meninggalkan gereja,” katanya.

Dalam usaha untuk meningkatkan kesadaran tentang mengapa banyak yang meninggalkan iman Kristiani, Samford menyerukan kepada media untuk membantu meletakkan topik yang tidak tampak ini kepada gereja.

Selain itu menurut EPA, dalam tiga atau empat tahun jumlahnya akan menjadi 37 juta.

Buku ‘If God Disappears’ ditulis untuk membebaskan disaat jatuh. (GCM/KristianiPos-Katherine T. Phan)