Apakah ada kehidupan setelah kematian…???
~ Apakah ada kehidupan setelah kematian? ~
Banyak orang yang merisaukan apakah Tuhan itu ada; apakah ada hidup akhir zaman; apakah ada kehidupan setelah kematian. Kerisauan-kerisauan itulah yang membuat hidup orang menjadi kehidupan semu: bukan hidup yang kini dan di sini, melainkan hidup masa depan. Sayang, justru mereka yang tidak tahu harus berbuat apa dalam hidup inilah yang terganggu oleh adanya kehidupan lain. Karena itu, pertanyaan penting yang justru jarang dilontarkan dalam diri manusia: apakah ada kehidupan setelah kematian?
Apakah sekarang ini kita sungguh-sungguh hidup atau sekadar mengusahakan jantung sehat, paru-paru normal, gizi cukup sehingga tubuh kita bisa digerakkan ke sana kemari? Apakah sekarang ini kita benar-benar hidup atau sekadar menjalankan formalitas sebagaimana orang yang dilahirkan di dunia ini: sekolah, bekerja, memilih agama, mencari nafkah? Yang mungkin tampak lebih mulia lagi, apakah sekarang ini kita sungguh-sungguh hidup atau sekadar memenuhi aturan agama, mencari ketenangan batin dengan sensasi-sensasi bisnis spiritual? Sekali lagi: apakah ada kehidupan setelah kematian?
Kalau jawabannya adalah tidak, memang tak jadi soal apakah kita hidup atau tidak. Yang jelas kita butuh pangan, sandang, dan papan sebelum jantung benar-benar berhenti. Kalau dijawab; “Ada”, kemungkinan pertama kita melihat hidup semata-mata sebagai mekanisme biologis (sebagaimana kita menjawab tidak ada kehidupan sebelum kematian). Kemungkinan kedua, kita tidak merisaukan lagi apakah hidup akhirat, hidup setelah mati itu ada atau tidak. Kita tidak tertarik, tidak terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan apakah yang terjadi setelah kematian. Kita tidak lagi pusing, dihantui oleh gambaran tentang neraka atau surga.
Seandainya kita sungguh tidak merisaukan hidup akhirat, hidup kita akan terfokus pada hidup yang kini dan di sini. Kita tidak akan ditakut-takuti oleh segala macam bentuk hukuman di neraka dan kita tidak akan teriming-imingi oleh ganjaran di surga. Tapi itu hanya mungkin jika kita sungguh-sungguh mengetahui siapakah diri kita yang sebenarnya. Kita hanya bisa bebas ketika sadar siapakah diri kita yang sejati. Maka pertanyaan, “Adakah Tuhan?” menjadi sungguh tidak relevan lagi bagi kita. Keberadaan Tuhan, identitasNya sama sekali tidak bergantung pada pernyataan kita. Kita katakan Tuhan ada atau tidak ada kalau memang Ia ada, Ia ada. Kita katakan Tuhan itu ada atau tidak ada kalau memang Ia tidak ada, Ia tidak ada. Argumentasi kita tentang Tuhan sama sekali tidak berguna kecuali didasari oleh pengalaman kita yang otentik, pengalaman mengenal diri yang sejati. 
Karena itu, satu-satunya pertanyaan yang relevan ialah: “Siapakah aku?” Tanpa mengacu pada pertanyaan itu, kita tidak akan pernah bebas menjadi diri kita sendiri. Hidup kita dihantui oleh “Tuhan”. “Tuhan” itu menjadi hantu bagi kita. Mengapa Tuhan menjadi hantu? Karena ia dimengerti sebagai konsep. Tuhan, bagi kebanyakan orang adalah konsep, bukan pengalaman. Karena itu, jangan kira kalau kira beragama dengan sendirinya kita berTuhan.
Kita perlu mencurigai, jangan-jangan kita hanya berkonsep tentang Tuhan tanpa mengalami Tuhan yang sejati. Kita perlu kritis jangan-jangan hanya beragama tanpa iman sedikitpun, jangan-jangan hanya berteriak, “Tuhan, Tuhan” dan membiarkan kita bersekongkol dengan iblis. Maka biarlah kita bersedia menerima Ia menjadi diriNya, tanpa konsep kita. Itu artinya, kita juga menjadi diri kita yang sejati.
6 Agustus 2009 pada 12:59 AM
nice post
4 September 2009 pada 11:07 AM
mnurut saya..
baguss jg argument nya…
dan mudahh u/di mngerti…
thx
5 September 2009 pada 1:56 AM
@yayaji
Makasih yah atas comentnya….salam kenal…..
20 September 2009 pada 9:20 AM
menurut saya artikel nya sangat bagus !!!!!!!!
21 September 2009 pada 12:18 AM
makasih karna q jdi tahu lo neraka itu sangat panas dan kejam………..
23 September 2009 pada 1:30 AM
@Ririe & Ghais,
Makasih yah atas kunjungannya dan juga komentarnya,salam kenal……ditunggu kunjungan berikutnya…..
20 Oktober 2009 pada 8:16 AM
Baguuuss.. .. ..
21 Oktober 2009 pada 12:34 AM
@Rean…
Heeee makasih yah………..
21 Oktober 2009 pada 5:30 PM
Menurut gw Yang Menjadi JAwaban sekaligus pertanyaan Adalah Kekekalan… Apa ada makhluk yg Hidup Kekal Didunia..?? Seorang Profesor Terkemuka Jg Akan Menjawab Tidak Ada.. Wacana bagus,, Hehehe
30 Oktober 2009 pada 9:59 AM
bagus seksli ceritane he…he…he
31 Oktober 2009 pada 9:15 AM
31 october, dari cerita ini menyimpulkan betapa penting manusia selalu bertanya adakah kehidupan yg kekal bahwasannya manusia ogah mati ,neraka ada disekitar kita…..jadi baru tau kalau hidup butuh jalan kebaikan agar benar menuju hidup yg surgaismen ..bravo
31 Oktober 2009 pada 9:16 AM
dari cerita ini menyimpulkan betapa penting manusia selalu bertanya adakah kehidupan yg kekal bahwasannya manusia ogah mati ,neraka ada disekitar kita…..jadi baru tau kalau hidup butuh jalan kebaikan agar benar menuju hidup yg surgaismen ..bravo
31 Oktober 2009 pada 12:23 PM
wah………….harus cpt2 tobat niech………….q masih 12 tahun,jadi q harus ngerti downg………………tobat woy………….tobat……ojo lali yow…….
2 November 2009 pada 1:16 PM
BAGI YANG BANYAK DOSANYA BURUAN TOBAT JA YAAAAAAAAA……………………..PEASE
3 November 2009 pada 12:57 AM
Bener bangat tuh………………
9 November 2009 pada 3:05 AM
neraka adalah siksaan pedih //////////////
12 November 2009 pada 12:47 AM
Betul sekali maka dr itu alangkah baiknya dr skarang kita mulai memlakukan hal2 yang baik agar di akhirat nanti kita ga masuk kesana………
Thanks yah atas komentarnya…..salam kenal
12 November 2009 pada 5:43 PM
Betul sekali. Ada kehidupan setelah kematian. Kita sekarang ada di kampung dunia dan akan pulang kampung tempat kita selamanya yang dinamakan kampung akherat yang kita harus meyakini adanya. Disana kehidupan kekal selamanya..Maka selagi kita masih hidup di dunia bertobatlah dan selalu beribadah karena jika kita sudah mati maka waktu tersebut sudah tidak ada lagi. Bekerjalah, berusahalah dengan sungguh-sungguh seolah-olah kita akan hidup 1000 tahun lagi tapi beribadahlah, bertobatlah dengan sungguh-sungguh seolah-olah kita akan mati besok.
13 November 2009 pada 12:54 AM
Thank atas comentarnya yah…….
14 November 2009 pada 6:10 AM
IH……….. SREM BGT CH???
emnk bner pa???kq bza tw c dri mna?
dah prnah nyoba y??hbaaaaat dweh. . . . .!!!!
21 November 2009 pada 3:44 AM
iya serem……..kalau nyoba sih lom……cuman dengar dan baca aj dr buku2 usang……..yah kurang lebih seperti itulah………..
9 Desember 2009 pada 6:09 AM
Saya sendiri merasa heran, mengapa saya ga pernah lihat tuhan, sorga, neraka, tapi hati saya begitu yaqin, padahal ga ada yang memaksa saya. Apa lagi jika saya merenungkan keberadaan alam semesta, mengapa alam ini ada, mengapa alam ini sangat teratur. Siapakah yang mengadakan semua ini? Siapa yang mengatur alam ini ? Manusia tidak mungkin, apalagi hewan, tumbuhan, apalagi tanah dan bebatuan. dan lebih tidak mungkin alam ini mengadakan dengan sendirinya yang sebelumnya tidak ada. Pertanyaan-pertanyaan tadi ternyata dijawab dengan sangat memuaskan dalam ajaran islam. sampai detik inipun keyaqinan saya terhadap kehidupan akhirat masih kokoh, mudah-mudahan sampai akhir hayat tetap kokoh.
12 Desember 2009 pada 3:37 AM
kehidupan setelah kematian jelas ada karena kematian itu hanya batas sebuah fase, yang saya fahami tentang tuhan sebenarnya kalau kita benar bertuhan secara hakiki maka kita secara langsung dan terus menerus bersama secara nyata dengan tuhan ,bukan hanya konsep yang sok benar dan sok diyakini ,tapi kosong karena konsep ini dari konsep orang untuk mengonsep orang lain.sedang surga dan neraka jelas ada tapi tidak besuk saja, sekarang dan besuk selama ada kehidupan maka bersama juga dengan surga dan neraka. yang jelas tuhan itu bukan hanya ada dikonsep tapi nyata dan bersama.