Office Boy, Bukanlah Profesi Impian

Posted in ~ Artikel ~, ~ Kisah Hidup ~, ~ Uneg Uneg ~ on 14 November 2009 by Benhawerd

Office Boy, Bukanlah Profesi Impian

Pada suatu pagi, ketika saya memasuki ruangan di kantor, lho kok ruangan masih agak berantakan dengan gelas berisi sisa minuman kemarin malam, tempat sampah yang masih penuh dengan potongan kertas bekas dan meja yang penuh debu, ternyata hari itu office boy tidak masuk kerja karena sakit, segera saja saya bergegas untuk merapikan meja kerja dan mencuci gelas, barulah saya mulai bekerja seperti biasanya.

Keberadaan office boy yang biasa disebut juga OB sangatlah penting, walaupun menjadi OB bukanlah cita-cita yang didambakan oleh setiap orang. Di kantorku di masing-masing bagian mempunyai seorang OB yang bertugas mulai dari merapikan ruangan termasuk mengepel lantai, mendistribusikan internal memo ke bagian lain, sampai dengan mencuci segala peralatan makan dan bahkan masih pula diberi tugas tambahan untuk dimintakan tolong membeli makanan untuk makan siang para staff ataupun ke bank untuk mencairkan cek untuk petty cash masing-masing bagian dan aneka pekerjaan lainnya seperti menyiapkan minuman untuk peserta rapat.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menanyakan kepada seorang OB yang baru saja bergabung di bagianku, apa alasannya memilih pekerjaan sebagai OB, ternyata alasannya sederhana karena dalam kondisi saat ini di mana tingkat persaingan di dunia kerja yang cukup ketat dengan bermodalkan ijasah SMU dan sudah lama melamar pekerjaan di mana-mana tetapi belum ada hasilnya, makanya diterimalah posisi OB ini, dan katanya bekerja sebagai apa saja untuk sementara waktu daripada memberatkan beban orang tua dan setidaknya bisa mengurangi jumlah pengangguran yang kian bertambah pada saat ini, dan kepada OB senior yang usianya cukup lanjut, ternyata alasannya betah bekerja di kantorku dan tidak mempunyai ketrampilan lain  dan biarlah anak-anaknya kelak berprofesi lebih baik daripada sang ayah. Ternyata menjadi seorang OB, bukanlah sebuah profesi impian, walaupun keberadaan OB sangat dibutuhkan oleh sebuah perusahaan.

Untuk menambah penghasilan para OB, biasanya setiap orang yang meminta jasa OB untuk membelikan makanan siang, akan memberikan uang tip dan rata-rata para OB ini akan bekerja lembur sampai jam 19.00 atau lebih setiap harinya dan terkadang bila ada staff yang masuk pada hari Sabtu, mereka juga ikut masuk bekerja. Pada saat mendekati hari raya, biasanya para staff mengumpulkan dana untuk diberikan kepada para OB sebagai tanda terima kasih atas jasa OB selama ini.

Para OB di kantorku, secara total ada sekitar 20 orang, mereka cukup sangat kompak dengan sesama rekan OB, misalnya suatu hari ada salah seorang OB yang mendapat kecelakaan motor di jalan raya, secara suka rela para OB bergantian untuk menunggu OB yang sakit di rumah sakit, begitu pula jika ada salah satu dari mereka yang akan melangsungkan pernikahan, dengan sigap mereka saling membantu mulai dari mendistrisbusikan undangan pernikahan dan hingga menjadi panitia, dan secara berkala para OB beserta keluarganya suka mengadakan acara jalan-jalan bersama dengan meminta partisipasi dana dari para staff dan biasanya keesokan harinya para staff diberikan oleh-oleh berupa makanan ringan daerah setempat.

Secara struktur organisasi di kantorku, para OB ini bertanggung jawab pada bagian umum, tetapi secara harian bertanggung jawab pada bagian di mana OB ini ditempatkan, dan kita dapat juga mengajukan promosi untuk OB yang bekerja di bagian kita menjadi staff. Untuk OB yang ditempatkan di bagianku, biasanya OB ini dilatih oleh saya dan teman-teman untuk pekerjaan administrasi ringan seperti cara merapikan dan mencari file, mempelajari komputer  seperti mengetik di Microsoft office word dan excel di waktu luang mereka dan rata-rata OB ini senang mendapat perhatian dan bimbingan dari para staff untuk kemajuan jenjang kariernya.

Ada salah seorang OB di bagianku melanjutkan kuliah malam setelah pulang bekerja, dan saat ini OB tersebut telah dipromosikan menjadi salah seorang staff di bagianku dan seorang OB lainnya yang tidak melanjutkan kuliah, tetapi cukup telatan dan rapi dalam mengatur file juga telah dipromosikan menjadi staff file. Untuk menggantikan OB yang telah dipromosikan, biasanya kita dapat meminta OB pengganti, yaitu dari bagian cleaning service yang dilatih untuk menjadi OB.

Penghasilan seorang OB biasanya sesuai dengan upah minimum propinsi, yang ditetapkan oleh pemerintah dan biasanya uang tip dan hasil kerja lemburnya yang cukup besar sehingga dengan penghasilannya para OB dapat mencicil rumah tinggal dan motor serta dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya beserta keluarga.

Walaupun terkadang keberadaan OB seringkali terlupakan dalam suatu struktur organisasi tetapi para OB memegang peranan yang penting sebagai bagian dari sebuah perusahaan, ketika saat OB tidak masuk bekerja, kita agak sedikit kerepotan untuk mengurus beberapa hal yang biasa dilakukan oleh OB.

 

kisah office boy

Posted in ~ Artikel ~, ~ Kisah Hidup ~ on 14 November 2009 by Benhawerd

Kisah dibawah ini merupakan sosok keteladanan Seorang Pemimpin…Semoga dapat menginspirasi..:

Have a great Day….

Ini ada kisah seorang Office Boy, semoga bermanfaat terima kasih.
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan,
dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya
tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.
Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, “Yang
terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata”tolong”, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan “maaf”, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.
Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan “terima kasih”kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya.
Terima kasih sekali lagi. Kiranya Tuhan selalu memberkati dan menyertai Bapak dimanapun Pak
Direktur berada. Amin.”
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.
Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.
Pembaca Yang Budiman ,
Tiga kata “terimakasih, maaf, dan tolong” adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia
yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.
Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.

Pilihan

Posted in ~ Artikel ~, ~ Rohani ~ on 26 Oktober 2009 by Benhawerd

Berteman Dengan Elang Atau Srigala

Hidup Anda sebagian besar ditentukan oleh orang-orang yang bersama-sama dengan Anda. Jika Anda berlari bersama seekor srigala, Anda akan belajar cara melonglong. Tapi jika Anda bergaul dengan elang, Anda akan belajar cara membumbung tinggi di angkasa.

Amsal 13:20 berkata,” Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Wajah seseorang dipantulkan oleh cermin, namun seperti apa Anda sesungguhnya dicerminkan oleh orang-orang yang bergaul erat dengan Anda – entah itu baik, entah itu buruk.

Percaya atau tidak : hampir semua kesedihan berasal dari hubungan dengan orang yang salah. Semakin sedikit Anda berhubungan dengan orang yang negative, semakin banyak kemajuan yang bisa Anda capai. Setiap kali Anda kompromi dengan kekurangan orang lain, berarti Anda sedang menambah kekurangan Anda. Lebih baik Anda sendiri dari pada berteman dengan orang tidak baik.

Jika Anda merasa mundur dua langkah setiap kali berusaha membuat kemajuan satu langkah, hal itu bisa dikarenakan Anda telah mencampur adukkan pergaulan baik dan buruk dalam hidup Anda.

Jika seorang pemalas tidak membuat Anda merasa terganggu, mungkin itu tandanya bahwa Anda sama seperti dia.

Pilihlah siapa yang akan menjadi teman dekat Anda dengan hati-hati. Pepatah kuno berkata, “Orang yang berbaring bersama anjing akan bangun bersama kutunya.” Thomas Carlyle mengatakan, “Tunjukkan kepada saya orang yang Anda hormati, dan saya akan tahu orang seperti apa Anda, karena hal itu menunjukkan pada saya sosok manusia ideal Anda, dan bahwa Anda ingin menjadi orang seperti itu.

Janji itu utang

Posted in ~ Artikel ~, ~ Kisah Hidup ~, ~ Lintas Berita ~ on 24 Oktober 2009 by Benhawerd

“JANJI”

(A touching story from India)

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca
koran, ”berapa lama lagi kamu baca koran itu?
Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang
untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya,
namanya Sindu tampak ketakutan air matanya mengalir. Di
depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt
(nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan
termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun dia sangat
tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih
kuno mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada
“cooling effect”.
Aku mengambil mangkok dan berkata, ”Sindu sayang,
demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini?
Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.”
Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang
punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air
mata dengan tangannya dan berkata, “boleh ayah…. akan
aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi
semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…”
agak ragu2 sejenak… “…akan minta sesuatu sama ayah
bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi
permintaanku? “ Aku menjawab, “Oh pasti sayang”.
Sindu tanya sekali lagi, “betul ayah?”
“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku
yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,
istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata
tanpa emosi, “janji” kata istriku. Aku
sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta
komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat
ini tidak punya uang.” Sindu menjawab,”jangan
khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok.”
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya
sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu.
Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa
Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya dia mendekatiku
dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku
dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada Hari
Minggu. Istriku spontan berkata, “permintaan gila,
anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!” Juga
ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia
terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak
kebudayaan kita.
Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta hal
yang lain kami semua akan sedih melihatmu
botak.” Tapi Sindu tetap dengan pilihannya,
“tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu.  Aku coba
memohon kepada Sindu, “tolonglah kenapa kamu tidak
mencoba untuk mengerti perasaan kami.” Sindu
dengan menangis berkata, “ayah sudah melihat bagaimana
menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah
sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa ayah
sekarang mau menarik perkataan ayah sendiri? Bukankah ayah
sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi
janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti
Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk
memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya,
bahkan nyawa anaknya sendiri.”
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku,
“janji kita harus ditepati.”
Secara serentak istri dan ibuku berkata,”apakah aku sudah gila?”
“Tidak,” jawabku, “kalau kita menjilat ludah
sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai
dirinya sendiri.” ”Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya
besar dan bagus. Hari senin aku mengantarnya ke
sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke
kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum
aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak
laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu tolong
tunggu saya.” yang mengejutkanku ternyata kepala anak
laki2 itu botak aku berpikir mungkin “botak” model
jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari
mobil dan berkata, “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak
laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah
anak saya, dia menderita kanker leukemia.”
Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air
matanya mulai meleleh dipipinya ”bulan lalu Harish
tidak masuk sekolah,karena chemo therapy kepalanya menjadi
botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2
sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan
berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang
mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka
kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk
anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati

Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Aku berdiri terpaku.Dan tidak terasa air mataku meleleh.
Malaikat kecilku… tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

ini kalo hewan punya FB

Posted in ~ Humor ~ on 22 Oktober 2009 by Benhawerd

kalo binatang punya facebook, kira2 statusnya apa aja ya

Babi: ngubang lagi aaaaaaaaaaah…….

Kuda: terimakasih ya tuhan … hari ini aku tidak di pecut…

Anjing Pudel : nunggu mo ke salon neh…

Nyamuk : abis ngider di rumah para Rastaman … ktularan giting nih … wuyow

Cumi2 : yahui ..sekarang hari minggu …. hari tanpa spongebob

Kecoak: baru aja selamat dari injekan maut, yeah!

Ayam peliharaan : Tidaaaaaaaaaaaak, Besok majikan gue mau ada syukuran, gue mau di sembeliiiiihhh

Sapi : aku diraba2 lagi oleh majikanku

Kucing : “Anak gue yang ke-5 barusan nanya siapa bapaknya. Gue bingung mau jawab apa. Gue sendiri lupa bapaknya siapa.”

Nyamuk: 4n3 p0sit1f HIV AIDS boooQ

Uler: hiks, lidah kegigit … selamat tinggal dunia

Luwak : yes..!!! manusia makanin tai gw..

Ayam : teman2…kalo besok gw ga update…brarti gw uda di goreng….i luv u all…

Gajah : Lagi rebutan lahan niiiy ama sawit…

pengharapan dalam kesempatan kecil

Posted in ~ Artikel ~, ~ Rohani ~ on 17 Oktober 2009 by Benhawerd

Pengharapan dalam kesempatan kecil

Ketika Yusuf berada dalam penjara. Ia menolong juru minuman dengan menafsirkan mimpinya. Lalu ia berpesan, “Ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini”.

Kesempatan yang Yusuf miliki itu memang tidak besar, buktinya si juru minuman kemudian melupakannya. Namun, justru dari kesempatan kecil tersebut, Yusuf mengawali kisah suksesnya di Mesir.

Begitulah seorang yang optimis. Ia akan berfokus pada kesempatan yang ada, sekecil apa pun kesempatan itu. Karenanya ia akan selalu mempunyai pengharapan; tidak akan patah arang dalam kesusahan.

Mungkin saat ini kita tengah berada dalam “penjara kesulitan”. Dan kesempatan yang kita miliki untuk keluar dari situ begitu kecil. Jangan berkecil hati. Jangan menyerah. Teruslah berusaha. Lakukan apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Ingat lah bahwa dari kesempatan kecil itu tidak jarang tersedia jalan yang lebar bagi kesuksesan. Seperti yang Yusuf alami. sekecil apapun kesempatan yang kita miliki adalah pertanda masih adanya harapan.